Banana Milk

18358863_10212978984288782_5324178607774616207_oDuh, gara-gara seorang temen lagi Ke Korea, tiba-tiba kangen dengan salah satu minuman favorit selama disana yaitu Banana Milk. Karena emang jarang nemu susu rasa pisang di Indonesia dan sebagai penggemar olahan pisang, rasanya bahagia bgt nemu susu ini.

Selama di Korea, mungkin si banana milk ini satu-satunya jajanan yg paling sering dibeli karena selain enak juga insyaallah halal. Udah saya cek di Korean Moslem federation bahwa susu ini halal. Nambah rajin dah belinya.

Susu ini sangat gampang ditemukan di mini mart di Korea. Rasanya seger bgt. Apalagi minumnya dingin-dingin gitu. Uenak tenan rek! Pengen bgt bawa pulang susunya, tapi kan ga mungkin. Ntar, kalo pada ke Korea, jangan lupa nyobain ini ya. Asli, enak bgt! 😂😂

Advertisements

Bunda, Pen*s itu apa sih?

My very late post

Siang tadi, saat saya tengah mengenakan jilbab, tiba-tiba saya mendengar Hafizh (3 tahun 5 bulan) bertanya pada bundanya,”Bunda, pen**s bunda gunanya untuk apa?”. Jleb! Kaget? Ohh..tentu saja. Meskipun secara teori kami telah sama-sama tau bahwa suatu saat dia akan bertanya hal-hal berbau seks, tetapi tetap saja ketika dia menanyakannya, hal tersebut menjadi sangat tidak nyaman untuk mendengarkannya.

Setelah mendengar pertanyaan yang ia tujukan kepada Bundanya, saya langsung bersenandung “dududududu…”, yang bermakna “kapok lu! Jawab tu..jawab..”. Hahaha. Dari kamar saya mengintip Bunda dan Hafizh yang sedang berdialog. Lalu apa jawaban Bunda Hafizh?

“Bunda ga punya penis, Fiz. Punya bunda namanya vagina.” Jawab bundanya. Dalam hati saya berkata, “waduh, malah nyebut vagina. Pasti ini anak bakal nanya apa itu vagina.” Dan benarlah dugaan saya, pertanyaan itupun meluncur dari mulut Hafizh. “Vagina itu untuk apa bun?” tanya Hafizh. “Sama kayak penis Hafizh. Penis Hafizh buat apa?” kata bundanya. “Untuk pipis”,jawab Hafizh. “Nah..iya sama. Vagina bunda untuk pipis juga. Letaknya sama-sama di sini”, jawab bunda Hafizh sambil menunjukkan area kemaluan. “Ohh…sama kayak yang dibelakang ini ya bun?”,tanya Hafizh lagi sambil menunjuk area pantat. “Itu pantat, fiz. Letaknya disini, tapikan ga boleh diliatin. Kan ini aurat.” Jawab bunda Hafizh. “Oooo gitu…” kata Hafizh sambil berjalan berlalu dari bundanya dan kembali bermain.

Pertanyaan seksual dari seorang anak itu adalah sebuah keniscayaan. Tinggal menunggu waktu hingga pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Karena memang sudah menjadi naluri seorang anak memiliki rasa ingin tahu tentang berbagai hal. Reaksi orangtua akan sangat menentukan bagaimana ia nantinya, apakah tetap akan menjadi anak yang serba ingin tahu atau mandeg karena orangtua menanggapi pertanyaan-pertanyaanya dengan jawaban yang mematikan rasa ingin tahunya.

Begitu pula reaksi dari orang tua terhadap pertanyaan seksualitas dari seorang anak akan mempengaruhi rasa ingin tahu dan reaksinya terhadap seksualitas. Tidak kita pungkiri, kita adalah generasi yang lahir dan dibesarkan dengan budaya tabu terhadap pembicaraan seksualitas. Ditambah lagi kita adalah orang timur yang sarat dengan sopan santun dan menurut kita membicarakan seksualitas itu adalah sebuah ke-tidaksopanan. Namun relevankah hal itu sekarang? Mengingat kemajuan teknologi yang sangat amat pesat dan semakin meningkatnya kasus pelecahan seksual terlebih yang menimpa anak-anak, maka kitapun harus merubah cara berpikir kita.

Dalam berbagai seminar, Bu Elly Risman yang sangat ahli dalam bidang parenting dan perlindungan anak, selalu berpesan agar orangtua mulai mengedukasi anak-anaknya tentang pendidikan seksualitas. Orangtua diminta terbuka berbicara tentang seksualitas kepada anak-anak sebagai upaya perlindungan diri anak dari kekerasan seksual. Dalam banyak penelitian pun menunjukkan bahwa anak-anak yang mengetahui tentang seksualitas dari orangtuanya langsung akan berperilaku berbeda dengan anak-anak yang mengetahui seksualitas secara otodidak.

Lalu bagaimana cara kita menyampaikan pendidikan seksualitas pada anak-anak sejak dini? Sama halnya dengan keinginan kita mengajarkan anak terhadap suatu keterampilan baru, maka pendidikan seksualitas pun diajarkan dengan menyesuaikan umur dan kesiapan anak. Tidak mungkin anak SD akan diberi pelajaran anak SMP karena itu namanya pemaksaan. Begitu pula pendidikan seks. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah orangtua sebagai pusat informasi anak harus bisa merasa nyaman terlebih dulu ketika berbicara seksualitas karena ini akan berpengaruh dengan cara kita mengkomunikasikannya ke anak. Coba kita bayangkan harus berbicara sesuatu yang membuat kita tidak nyaman, pasti lawan bicarapun akan merasa tidak nyaman dan pada akhirnya pembicaraan sia-sia.

Ya, seperti itulah yang akan terjadi ketika kita menghadapi pertanyaan anak seputar seksual dengan cara yang tenang dan tidak bereaksi terlalu berlebihan. Pertanyaan-pertanyaan anak seputar seksual harusnya memang kita jawab setenang kita menjawab pertanyaan anak tentang hal-hal lainnya. Namun yang sering terjadi, kita bereaksi terlalu berlebihan ketika anak bertanya sesuatu tentang seksualitas. Hal yang sering terjadi adalah kita memarahi anak ketika ia bertanya tentang seksualitas. Bayangan kita sudah terlampau jauh. Padahal belum tentu anak ingin mengetahui sejauh yang kita bayangkan. Anak-anak usia balita itu pertumbuhan otaknya pun belum sempurna. Maka ia hanya bisa menyerap hal-hal yang sederhana. Maka kadang ia hanya butuh jawaban sederhana atas pertanyaannya.

Salah satu tips yang sering diajarkan Ayah Edy dan Bu Elly Risman sebagai pakar parenting saat akan menjawab pertanyaan seksualitas anak adalah dengan menanyakan kembali tantang apa yang sudah ia ketahui mengenai pertanyaannya. Setelah itu, insyaallah kita akan lebih tau jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan seksualitasnya. Dan bila kita tak mampu menjawabnya, maka katakan saja kita tidak tau dan akan mencari tahu terlebih dahulu atau kita bisa menggunakan bantuan dari pihak ketiga yang kita yakini bisa memberi jawaban yang benar dan tepat. Mungkin bisa dengan bantuan dokter anak anda atau rekan anda yang memang memiliki kemampuan tentang hal ini. Tapi yang pasti, jangan sampai anda tidak menjawabnya. Karena ini penting bagi anak untuk selalu menjadikan anda sebagai pusat rujukan informasinya.

Selamat belajar 😉

Minum Jamu

Minum jamu bukanlah hal yang aneh lagi untuk ku dan keluarga. Bagaimana tidak, sejak kecil aku sudah dibiasakan untuk meminumnya. Meskipun kami tinggal di Pulau Sumatera, menemukan penjual jamu bukanlah hal yang sulit. entah bagaimana mama berhasil membuat kami menyukai jamu, yang bagi sebagian orang merupakan minuman pahit. Pahit, jelas. Namanya juga minuman yang dibuat dari daun-daunan dan tanaman-tanaman obat. Tetapi itu semua tak membuat kami tak menyukai jamu.

Ketika minum jamu, pasti kita akan disuguhi dengan 2 gelas ramuan. Satu gelas berisi ramuan yang agak lebih pahit dan gelas lainnya berisi ramuan yang relatif lebih manis. Dan seperti anak-anak lainnya, sejak kecil aku paling suka ramuan yang manis. Namun tak pernah kami memesan hanya yang manisnya saja, yang hingga saat ini pun aku tak tau ramuan manis itu terbuat dari apa.

Mama memang hebat dalam memperkenalkan jamu pada kami. Karena mama mengenalkan jenis jamunya pun secara bertahap, tak langsung memberi ramuan dengan level paling pahit. Jamu yang selalu kami minum ketika kecil adalah beras kencur. Sedangkan mama selalu meminum jamu yang warnanya hijau pekat. Mungkin itu daun kates. Aku yakin pasti pahit. Seminggu sekali tukang jamu langganan kami pasti akan mampir ke rumah dan “menyetorkan” jamu langganan kami. Ketika beranjak kelas 5 atau 6 SD mama mulai mengganti jenis jamu yang kami minum, yaitu kunir asem.

Dahulu, aku tak tau apa manfaatnya jamu-jamu ini. Aku cuma manut karena disuruh minum, ya aku minum. Belakangan aku baru tahu manfaat dari jamu-jamu ini, terutama kunir asem. Sebagai wanita agar siklus menstruasi kita lancar, maka kunir asem ini sangat bermanfaat untuk hal tersebut. Makanya ketika meminum kunir asam instan produksi Kiranti, tak sulit bagiku menelannya. Karena aku telah terbiasa dengan minuman ini sejak kecil. Bagi yang sudah pernah melahirkan pun bercerita bahwa jamu-jamuan itu sangat bermanfaat pada saat pemulihan pasca melahirkan. Selain itu, banyaknya obat-obatan kimia yang memiliki efek samping yang juga tidak terlalu baik untuk tubuh kita, membuat saya pribadi lebih memilih untuk meminum obat-obatan tradisional untuk mengobati penyakit-penyakit yang ringan. Radang tenggorokan adalah penyakit yang paling sering menyerangku. Sejak aku tau hal ini bisa diatasi dengan ramuan sari kunyit yang ditambah madu dan jeruk nipis, maka aku lebih memilih meminum ramuan ini. Ketika flu menyerang pun aku tak banyak bersentuhan dengan obat-obatna kimia. Madu, kiwi dan banyak mengkonsumsi air putih adalah obat mujarabku. Dan tentu saja doa tak ketinggalan.

Eh ada tukang jamu lewat…minum jamu yuk! ^_^

I do what i love, i love what i do

LOVE. CINTA.

Selalu bisa menjadi alasan terbesar dalam melakukan berbagai hal. Ia layaknya energi besar yang muncul dalam diri ketika menyertainya dalam segala hal. Termasuk ketika kita memilih ingin seperti apa kita dikenal, maka lakukan semuanya dengan cinta.

Aku bersyukur karena aku selalu diberi kesempatan melakukan apapun, memilih apapun dengan cinta. Mengapa bersyukur? Karena tak semua orang punya kesempatan memperolehnya. Ada banyak manusia di muka bumi ini yang pada akhirnya harus meninggalkan apa yang dicintainya untuk tetap bertahan.Namun aku bisa melakukan apa yang aku cintai. Dan itu memang menjadi prinsipku. Aku harus menyukai apa yang aku kerjakan agar aku bisa mengerjakannya dengan hati. mengerjakan sesuatu kadang tak cukup mengandalkan fisik. Ia butuh hati agar apa yang kita kerjakan memiliki “soul”. Dari hati hingga sampai ke hati pula.

Bisa dikatakan kadang seleraku berbeda dengan banyak orang. Dan aku kadang tak peduli. Yang penting aku suka, aku cinta. Maka aku akan terus bersamanya. Asal tak melanggar syariat tentunya. Karena itu harga mati. Termasuk dalam hal memilih pendidikan. Ketika di semester 6 kami harus memilih konsentrasi mata kuliah lanjutan, aku memilih jurusan dengan peminat paling sedikit. Aku memilih peminatan ini karena memang dari awal kuliah aku sudah menyukainya. D543256_2774602463837_488251360_nan bila pada akhirnya tak banyak yang melirik, aku malah bersyukur, karena dosen-dosenku malah punya banyak waktu berkonsentrasi pada kami, kaum minoritas ini.

Dan ketika memilih studi untuk pasca sarjanaku pun aku memilih jurusan yang mungkin banyak orang memandang dengan sebelah mata. Sekali lagi, aku tak peduli. Buatku, berat rasanya ketika harus berjuang untuk sesuatu yang tak aku cintai. Karena bisa jadi, jiwaku tak disana. Lalu bagaimana aku bisa bertahan? Maka berjalan terus dengan apa yang menjadi pilihanku pun adalah hal terbaik yang aku lakukan.

Namun pada akhirnya cinta tetaplah cinta. Ia adalah energi yang sumbernya bisa kita dapatkan dimana pun, kapan pun dan dalam keadaan apapun. Soal cinta, ia bisa hadir asal kita menumbuhkannya. Seperti dikala aku mau ga mau harus menerima takdirku sebagai seorang PNS dengan jabatan Penyuluh Kesehatan Masyarakat, yang mana menjadi PNS bukanlah cita-citaku, maka akupun mau ga mau harus menumbuhkan cinta didalamnya. Bagaimana mungkin aku bisa menikmati pekerjaanku, jika hatiku tak disana? Bagaimana aku bisa bekerja dengan hati bila aku tak mencintainya? Bagaimana hasil kerjaku akan maksimal bila tak ada cinta didalamnya? Fisikku hadir, namun hatiku tidak. Maka lelahlah yang akan aku rasakan.

Terbukti, setelah aku menghadirkan hati dalam pekerjaanku, berusaha mencari alasan agarku mencintai pekerjaanku, sekarang aku jatuh cinta dengan profesiku sebagai penyuluh. Profesi yang lagi-lagi banyak disepelekan orang, but once again, i dont care. Aku jatuh cinta pada pekerjaan yang membuatku bisa berbagi ilmu, dan semoga ilmu yang bermanfaat. Dan dengan cinta, aku tak merasakan lelah dalam berbagi, aku bisa berkata dari hati dan semoga sampai ke hati.

Yes, i do love everything that happen in my life

i do what i love, n i love what i do. Alhamdulillah…

Menanti Sajalah..

Almost thirty. Dan pertanyaan yang muncul selalu saja sama, “Kapan nikah?”. Pertanyaan wajib yang dilemparkan oleh semua orang pada orang-orang seumuranku. Tak salah mereka bertanya hal itu. Sungguh tak salah. Itu hanya bentuk perhatian mereka atau mungkin bentuk basa-basi mereka. … Continue reading

Kecanduan Tilawah

Yang namanya kecanduan terhadap suatu hal itu memang tidak menyenangkan. Kita tidak akan merasa tenang sebelum bertemu dengan hal yang membuat kita candu. Dari media kita sering melihat bagaimana orang yang kecanduan psikotropika, tersiksa hidupnya bahkan rela menyakiti dirinya sendiri ketika efek sakaw atau kecanduannya muncul.
Contoh yang juga cukup sederhana adalah kecanduan kopi atau teh. Minuman yang satu ini menjadi minuman yang sangat mudah ditemukan dalam keseharian masyarakat Indonesia. Kopi atau teh sering menjadi suguhan dalam jamuan. Bahkan sering kali minuman ini menjadi minuman yang wajib ada dalam mengawali pagi seseorang atau untuk teman wajib bersantai disore hari. Coba saja tanyakan pada para pecandu kopi atau teh, apa yang mereka rasakan ketika sehari saja tidak mengkonsumsinya? Rata-rata mereka akan menjawab seperti ada yang kuranglah, lemeslah, tidak bersemangatlah, dsb. Ketika mereka mencoba untuk tidak mengkonsumsi kopi atau teh sehari saja, maka rasa tersiksanya mungkin tidak jauh berbeda dengan orang yang kecanduan psikotropika.

Mungkin sama halnya ketika kecanduan beribadah. Bagaimana bila ini adalah kecanduan tilawah Al Qur’an? Ya, tilawah atau membaca Al Qur’an. Ia ibadah sunnah namun memiliki ganjaran yang besar di hadapan Allah SWT. Al Qur’an adalah warisan Rasulullah, pedoman hidup kita. Logikanya, semakin sering kita membaca panduan dalam hidup kita, maka semakin lurus dan mudahlah kita mencapai tujuan hidup kita.

Bayangkan bila kita kecanduan tilawah Al Qur’an? Hidup kita dalam sehari akan merasa tak lengkap sebelum kita membaca Al Qur’an. Mau sesibuk apapun kita beraktivitas hari itu, kita selalu saja bisa menyempatkan diri untuk tilawah Al Qur’an. Bila tak mampu menamatkan satu juz dalam sehari rasanya sangat tersiksa. Pernahkah kita ingin merasakan perasaan-perasaan ini? Semoga pernah. Karena bila tidak, mungkin ada yang tidak beres dengan hati dan keimanan kita.
Ganjaran yang Allah berikan bagi kita bila intens berinteraksi dengan Al Qur’an itu sangatlah besar. Bahkan kita sering sekali mendengarnya. Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan AL Qur’an” HR Al Bukhariy dari Utsman bin Affan. Hadis lainnya tentang keutamaan orang yang membaca Al Qur’an, Rasulullah bersabda : Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan menjadi penolong pembacanya di hari kiamat ” HR Muslim dari Abu Umamah.

Ya Al Qur’an akan mampu menjadi penolong kita di hari perhitungan kelak. Al Qur’an kelak akan mencari sahabatnya ketika di dunia dulu dan menjadi saksi yang akan membela kita nantinya. Lalu bagaimana Al Qur’an akan mampu menjadi penolong kita ketika di dunia kita tak bersahabat dengannya? Allah tahu kita sibuk dengan urusan dunia. Namun ketika kita bertanya pada diri sendiri, sesibuk apakah kita sesungguhnya hingga tak mampu menyempatkan diri untuk tilawah Al Qur’an? Jangan-jangan kita yang sok sibuk? Atau mungkin sibuk pada hal yang tidak terlalu penting? Na’udzubillahiminzalik

Maka, jadilah pecandu tilawah Al Qur’an. Berusahalah untuk menjadi orang yang “sakaw” ketika sehari saja bibir ini tak dibasahi dengan ayat Al Qur’an. Dan pada dasarnya membaca Al Qur’an akan menjadi sarana relaksasi yang ampuh. Al Qur’an itu surat cintanya Allah untuk kita. Coba rasakan, ketika kita tengah dirundung masalah, maka cobalah sejenak mengistirahatkan diri dengan membaca Al Qur’an. InsyaAllah kita akan menemukan ketenangan meski kita tidak memahami sepenuhnya apa yang kita baca. MasyaAllah.

Lalu bagaimana caranya agar menjadi pencandu tilawah Al Qur’an? Caranya adalah dengan baca dan baca terus Al Qur’an. Paksa dan paksa terus diri ini untuk selalu berinteraksi dengannya. Buatlah target berapa lembar Al Aqur’an yang akan kita baca dalam sehari dan berusahalah untuk mencapainya. Bawa ia kemanapun kita pergi hingga bila ada waktu luang kita akan melihatnya dan memilih untuk menghabiskannya dengan Al Qur’an. Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi pecandu tillawah Al Qur’an.